Berkolaborasi Dalam Spiritualitas Convivial
Pada masa penjajahan Belanda di Nusantara, diterapkan strategi divide et impera—politik adu domba—yang memecah rakyat agar lupa tujuan utama: meraih kemerdekaan. Ketika sesama anak bangsa saling melawan, penjajah justru semakin kuat. Sejarah ini mengingatkan kita pada perpecahan yang pernah terjadi di tengah umat Kristen mula-mula.
Dalam pertumbuhan gereja perdana, Injil diberitakan oleh berbagai pelayan Tuhan: Paulus, Apolos, Kefas, dan para rasul lainnya. Namun, keberagaman pelayan justru memunculkan persaingan rohani. Jemaat tidak lagi berfokus pada Kristus, melainkan pada siapa yang memberitakan Injil. Karena itu, Paulus menegaskan bahwa Kristus tidak terbagi dan tidak seorang pun dibaptis dalam nama manusia. Inti iman bukanlah tokoh, melainkan salib Kristus.
Firman ini mengajak kita membangun spiritualitas convivial—spiritualitas kebersamaan yang saling melengkapi. Gereja dipanggil bukan untuk terpecah oleh golongan, tetapi untuk berkolaborasi dalam kasih. Ketika Kristus menjadi pusat, perbedaan tidak memecah, melainkan memperkaya. Mari kita bersama-sama memberitakan Injil, bukan dengan semangat persaingan, tetapi dengan hati yang bersatu dalam Kristus.