Berjumpa Dengan Allah Dalam Ketakutan Kita
Trauma seringkali menumbuhkan ketakutan. Ketakutan sendiri bisa diibaratkan seperti kegelapan. Di dalam kegelapan kita tidak tahu arah, di dalam kegelapan kita tidak menjumpai harapan, di dalam kegelapan kita tak mampu merancangkan masa depan dengan lebih baik. Jika dikuasai ketakutan, kita sulit menghadapi hidup. Pertanyaannya: apakah di dalam kegelapan Allah tidak berkuasa?
Injil Matius menuliskan bahwa Yesus menjadi Israel yang baru. Jika Israel mengalami eksodus dari Mesir, bayi Yesus justru mengalami eksodus ke Mesir. Hal itu berarti, sekalipun Mesir menjadi tempat di mana bangsa Israel mengalami trauma masa lalu, kini Mesir justru menjadi tempat perlindungan bagi bayi Yesus.
Jika Yesus adalah Israel baru yang kini menjalani perjalanan ke Mesir, bagaimana kita menghadapi trauma kita? Apakah semua yang mengalami trauma harus secara sadar “memeluk” trauma mereka? Berikut ada tiga usulan yang diberikan sesuai dengan perenungan Pdt. Joas Adiprasetya terkait dengan bacaan Injil hari ini.
Pertama, fokus pada hadirnya Allah dalam Yesus. Injil tidak menuntut mereka untuk pulih dengan cepat. Pemulihan yang dilakukan dengan cepat justru bisa menumbuhkan luka-luka yang baru.
Kedua, fokus pada Imanuel. Trauma tidak boleh dipandang rendah atau disederhanakan. Namun kesadaran bahwa Yesus adalah Imanuel harus terus digaungkan dalam hidup kita. Dalam trauma seberat apa pun, kita harus menyadari bahwa di situ pun Allah beserta.
Ketiga, pengungsian sebagai fenomena luka yang global. Mengingat tentang Gaza, korban banjir Sumatera, dan banyak lain, kita melihat bahwa di sana Allah dapat ditemukan juga.
Ketakutan-ketakutan berdampak trauma memang tidak mudah dan tidak boleh buru-buru untuk diselesaikan, namun di sana kita pun dapat berjumpa dengan Allah.