Hanya Kristus Harapanku

Suatu hari saya duduk di bantaran sungai dengan bebatuan besar dan arus air yang cukup deras. Di sisi seberang sungai terdapat sebuah tebing yang dipenuhi pohon pisang dan berbagai jenis pohon lainnya dengan sebuah batu berukuran cukup besar di dasarnya yang nampaknya baru saja jatuh (terlihat dari masih melekatnya tanah liat di sekujur batu itu). Dari pemandangan ini saya diingatkan betapa berkuasanya Allah dan betapa kecilnya manusia di hadapan-Nya.

Di dalam Injil Matius yang kita baca bersama hari ini, kita diingatkan tentang begitu rentan dan lemahnya manusia, sehingga untuk menyelamatkan dirinya sendiripun tidak bisa. Manusia butuh Allah. Dalam hal ini, kerentanan manusia berhadapan langsung dengan kemahakuasaan Allah. Namun tidak cukup sampai di situ, Allah yang Maha Kuasa itu ternyata sudi mengajak serta manusia yang rentan untuk melakukan karya agung-Nya, keselamatan.

Melalui Maria dan Yusuf, kita tahu bahwa Allah Yang Maha Kuasa itu sudi masuk dalam kerentanan hidup manusia. Allah melayakkan, menguatkan dan meneguhkan Maria dan Yusuf. Sedangkan Yusuf merendahkan diri mereka dalam ketaatan. Kendati ketaatan itu bermuara pada konsekuensi kehidupan yang tidak mudah, namun mereka tetap menjalani hidup itu. Mereka menjalaninya bukan untuk diri mereka semata, namun juga untuk umat manusia, dan terutama untuk kemuliaan Allah Bapa di Sorga. Kristuslah harapan kita.

Bagaimana hidup kita? Apakah kita juga menyadari bahwa hanya Kristus harapan kita? Apakah kita juga mau turut serta dalam karya agung keselamatan yang Allah kerjakan di dalam dunia? Apakah kita bersedia menyandarkan hidup kita hanya kepada-Nya dan taat melakukan segala kehendak-Nya dengan tiap konsekuensinya? Selamat menanti kedatangan-Nya.