Ugahari Sebagai Jalan Pertobatan

Ugahari adalah sebuah spiritualitas kecukupan yang lahir dari hati yang percaya bahwa Allah Tritunggal melimpahi semesta dengan kasih-Nya, sehingga respons yang paling tepat bukanlah keserakahan, melainkan hidup yang sederhana, bersahaja, dan secukupnya. Hidup ugahari bukanlah hidup kekurangan, tetapi cara berelasi dengan Allah dan dunia yang membuat kita bebas dari keinginan tak bertepi dan lebih peka terhadap kebutuhan orang lain.

Injil Matius mengisahkan tentang kehidupan ugahari yang diperlihatkan oleh Yohanes Pembaptis. Dia hidup berkebalikan dengan kehidupan orang pada masa itu yang dipenuhi dengan keserakahan. Dia mengenakan pakaian sederhana dan makan yang bersumber dari alam. Hal itu menunjukkan bahwa alam ciptaan Tuhan ini cukup untuk membuatnya hidup jika didasarkan pada ucapan syukur. Alam ini cukup untuk menghidupi seluruh umat manusia, tapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan seorang manusia.

Pengharapan akan kehidupan yang lebih baik juga diharapkan oleh umat dalam jaman Yesaya. Kehidupan yang dipenuhi damai sejahtera, di mana Sang Ratu Adil itu akan hadir dan memerintah dunia. Sang Mesias kita nantikan bersama untuk menolong agar bumi ini dipenuhi dengan keadilan. Dalam hal itulah umat dipanggil untuk menerapkan 'ugahari' sebagai jalan hidupnya.

Ugahari dalam penantian Sang Mesias kita terapkan sebagai bentuk nyata iman kita; bahwa apa yang Tuhan berikan bagi kita ini sudah cukup. Hidup kita harus diarahkan untuk memuliakanNya, bukan untuk memuliakan diri sendiri. Hidup yang dipenuhi dengan rasa syukur, bukan keserakahan. Hidup yang terus mewartakan damai sejahtera bagi seluruh ciptaan, bukan hanya bagi diri sendiri. Dalam ugahari kita juga meyakini bahwa kita tidak lagi mau dikuasai oleh ketamakan/keserakahan, melainkan rasa syukur dan kesediaan untuk berbagi.