Mengubah Pedang menjadi Mata Bajak
Kehidupan manusia sering dilingkupi bayang-bayang kekerasan dan pertikaian, yang berujung pada kehancuran sia-sia. Padahal, sejak semula, Tuhan menghendaki dunia yang penuh kedamaian dan ketertiban. Di tengah ketakutan ini, masa Adven hadir sebagai penantian besar. Kita menanti Kristus, yang kelahiran-Nya adalah jaminan hadirnya keadilan dan perdamaian sejati, mengatasi segala kegentaran manusia.
Nubuatan Yesaya 2:1-5 secara puitis menggambarkan pemulihan universal: pedang ditempa menjadi mata bajak dan tombak menjadi pisau pemangkas. Simbol peperangan diubah menjadi upaya kehidupan. Perdamaian dimulai dari Sion, di mana Allah menjadi Hakim yang mengajarkan kebenaran, memanggil kita, "Hai keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang Tuhan."
Seruan perdamaian ini harus menjadi denyut nadi Gereja. Kita dipanggil untuk mencintai hidup, memilih persahabatan daripada permusuhan. Di sisi lain, Rasul Paulus (Roma 13:11-14) mengingatkan bahwa saatnya telah tiba bagi kita untuk bangun dari tidur kelesuan rohani. Di tengah godaan dunia, kita harus mengenakan senjata terang, yaitu Kristus, meninggalkan perbuatan kegelapan seperti pertengkaran dan iri hati.
Sebab kedatangan Kristus kembali adalah kepastian, walau waktunya tersembunyi (Matius 24:36-44). Ibarat tuan rumah yang harus berjaga-jaga dari pencuri, kita harus senantiasa waspada dan hati-hati, tidak lengah oleh arus dunia.
Masa Adven ini memanggil kita untuk bukan hanya menanti, tetapi juga bertindak. Mari berjalan di dalam terang Kristus, memperjuangkan perdamaian, dan menjadikan hidup kita perwujudan nyata dari Sion yang damai, tempat Tuhan memerintah, agar kita ditemukan siap saat Ia datang kembali.