Kasih Allah Melampaui Penghukuman

Bagaimana Tuhan Yesus mati bagi orang-orang yang tidak menerimaNya pada saat itu adalah hal yang wajar dan memang sudah seharusnya demikian terjadi. Dia disesah, diludahi, dipukul, dihina, dan akhirnya harus mati di kayu salib. Dia dipandang telah melanggar pola hidup beragama pada saat itu. Dia dianggap sebagai penentang bagi orang-orang dan golongan tertentu. Oleh karena itulah maka Dia layak mendapatkan hukuman.

Bagi orang-orang pada saat itu, dan kita pada saat ini yang memutuskan untuk mau percaya dan beriman kepadaNya, apa yang diterimaNya bukanlah hal yang pantas. Hukuman mati bagiNya karena melaksanakan Misi Allah tidaklah seharusnya diterimaNya. Tuhan Yesus tidak pantas dihina, dicaci, disiksa, apalagi disalibkan.

Namun jalan derita itu yang ingin Allah tunjukkan keoada manusia. Allah ingin memperlihatkan agar manusia mengikuti teladanNya, hidup dengan tetap fokus kepada misi Allah, bukan misi dan keinginan diri sendiri. Meski Dia bisa meminta kepada Bapa untuk melepaskanNya dari jalan derita, namun Dia tidak melakukannya. Dia tidak memonta keoada Bapa bukan karena Dia menyukai jalan penderitaan itu, tapi karena Dia tahu bahwa manusia butuh teladan nyata untuk setia kepada Allah Bapa.

Kasih Allah lebih dari sekedar penghukuman yg diterima oleh Tuhan Yesus. Kasih Allah juga lebih dari penghukuman yg harus diterima oleh manusia. Oleh karena itu, Allah mencurahkan kasihNya bagi mansia agar setiap manusia yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.